Laman

Selasa, 19 Agustus 2014

Reog Cemandi, Kesenian Asli Sidoarjo untuk Usir Kompeni





SIDOARJO - Pria bertopeng itu berdiri dengan gagah. Badannya berlenggak-lenggok mengikuti irama gendang yang ditabuh enam orang di sampingnya. Tangan kanannya mengayunkan golok seakan menebas lawan yang datang.

Lantas kepalanya melongok ke kiri dan ke kanan. Sorot matanya menatap tajam.Ya, itu adalah sekelumit adegan yang sedang dimainkan oleh penari Barongan lanang, salah satu tokoh dalam pertunjukan reog Cemandi di kawasan Alun-alun Sidoarjo, Minggu (19/12).
Reog Cemandi adalah kesenian asli Sidoarjo. Kesenian itu mulai muncul tahun 1926. Reog Cemandi berbeda dengan Reog Ponorogo. Tidak ada warok. Topengnya pun tidak dihiasi bulu merak seperti ciri khas yang ada pada reog Ponorogo. Irama musik yang dimainkan pun cukup sederhana. Hanya memainkan angklung dan kendang kecil. Kendang dan angklung itu ditabuh mengikuti irama.
Jumlah pemain Reog Cemandi sekitar 13 orang. Dua penari yang memakai topeng Barongan Lanang (laki-laki) dan Barongan Wadon (perempuan), enam penabuh gendang dan empat pemain angklung. “Kalau sekarang hanya sembilan saja yang main, karena angklungnya sedang diperbaiki,” ucap Arif Juanda lagi.
Yang unik, semua peralatan yang digunakan sekarang belum diganti samasekali. Enam gendang, dua topeng dan angklung digunakan pemainnya selama turun temurun hingga generasi kelima yang dipimpin Susilo saat ini.
Memang, Reog Cemandi hanya ada satu yakni di Desa Cemandi kecamatan Sedati Sidoarjo. “Ini sudah dipakai sejak generasi kelima. Tiap malam Jumat peralatan itu pasti dikasih uba rambe (sesajen) agar tetap awet,” tambahnya.
Saat memainkan tarian itu, dua penari Barongan Lanang dan Barongan Wadon mengiringi penabuh gendang yang ada di tengahnya. Enam penabuh gendang itu membentuk formasi melingkar sambil mengikuti irama.
Dua penari itu belenggak-lenggok disamping penabuh gendang. “Kalau penari Barongan menari seperti biasa, sedangkan penabuh gendangnya membuat formasi melingkar membuat gerakan seperti silat,” tambah Arif lagi.
Dulunya, reog Cemandi adalah pertunjukan yang dipakai masyarakat desa Cemandi, kecamatan Sedati untuk mengusir penjajah Belanda. Waktu itu, salah satu kyai dari Pondok Sidoresmo Surabaya, menyuruh masyarakat setempat untuk membuat topeng dari kayu pohon randu. Topeng itu dibentuk menyerupai wajah buto cakil dengan dua taring. Setelah itu, masyarakat setempat melakukan tari-tarian untuk mengusir penjajah yang akan memasuki desa Cemandi.
“Kalau ada kompeni datang, katanya di desa kami langsung memainkan tarian itu, nanti topeng-topeng yang menari menjadi ribuan orang. Itu yang membuat musuh menjadi takut,” ucap Arif Juanda, salah satu pengurus paguyuban Reog Cemandi.
Selain untuk mengusir penjajah pada waktu itu, tarian tersebut juga sebagai himbuan kepada masyarakat sekitar untuk selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Anjuran itu tersirat dalam sair pangelingan (pengingat)  yang dilantunkan pemainnya sebelum memulai pertunjukan. “Lakune wong urip eling gusti ning tansah ibadah ing tengah ratri,” ucap Arif Juanda menirukan sair itu.
Kini, pertunjukan reog Cemandi itu sudah berubah fungsi. Masyarakat sekitar biasa mengundang kesenian Reog Cemandi itu untuk hajatan mantenan, sunatan atau acara lainnya. Selain itu, masyarakat sekitar percaya, bahwa tarian reog Cemandi bisa untuk menolak balak (membuang sial). “Kalau arak-arakan pasti kami yang di depan. Karena untuk menolak balak,” tegasnya lagi.
Selain Reog Cemandi, kesenian khas asli Sidoarjo lainnya adalah tari Ujung. Tari Ujung adalah tarian untuk meminta hujan. Dalam adegan tari tersebut, para penarinya yang hanya memakai celana terlihat saling menyerang dengan menggunakan cambuk yang terbuat dari rotan.
Yang diserang pun tidak boleh menangkis. Itu artinya, penari harus merelakan tubuhnya untuk dipecut (dicambuk) rotan oleh penari lainnya.”Rotannya harus diletakkan lebih dulu untuk menerima pukulan rotan dari penari lain,” ucap Budiantoro, koordinator kelompok tarian Ujung.
Ya, dua kesenian asli Sidoarjo itu ditampilkan dalam acara Sidoart-jo Festival 2010 yang digelar dua hari kemarin. Acara itu adalah ajang untuk melestarikan budaya local Sidoarjo yang saat ini terancam punah. “Mudah-mudahan acara ini bisa digelar setiap tahun untuk melestarikan kesenian asli Sidoarjo,” ucap Ketua Bidang Program Dewan Kesenan Sidoarjo (DKS) Bambang Tri.

SUMBER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar